Soto Betawi H. Ma'ruf
Saksi Kuliner Zaman Belanda

Soto Betawi H. Ma'ruf

Bisa tetap eksis sejak Indonesia belum merdeka merupakan perjalanan sukses nan panjang Soto Betawi H. Ma'ruf, sebagai salah satu kuliner Jakarta. Mulai dari menjajakan dagangannya secara berkeliling, H. Ma'ruf terus bertahan meski perubahan zaman. H. Ma'ruf yang berkeliling di sekitaran jalan raya Cikini, akhirnya menetap di salah satu area di Taman Ismail Marzuki. Berjalannya waktu, Soto Betawi H. Ma'ruf terus ada, meski sudah berganti generasi. Kali ini melalui Muchlis, putra ketujuh dari putra putri yang dimiliki H. Ma'ruf. Kemudian, tongkat estafet dilanjutkan oleh Mufti Maulana yang merupakan anak dari Muchlis. Meski muda dan juga punya banyak kesempatan bekerja, sukses menurut Mufti adalah memilih meneruskan usaha dari keluarganya yang sudah menginjak generasi ketiga.



Nostalgia lewat soto
Soto Betawi H. Ma'ruf tetap menjadi favorit pelanggannya, meski sudah berganti-ganti. Caranya, setiap orang tua yang merupakan pelanggan setia, kerap memperkenalkan Soto Betawi H. Ma'ruf kepada anak atau cucu mereka. Sehingga lewat soto, generasi saat ini bisa bernostalgia, atau pun sekadar mengenang orang tuanya yang mungkin telah tiada.

Soto tanpa eneg
Punya porsi yang besar, Soto Betawi H. Ma'ruf tak membuat kita yang memakannya merasa eneg. Rahasianya ada di kuahnya yang merupakan perpaduan susu dengan santan. Sehingga untuk anak-anak pun, Soto Betawi ini tetap menjadi masakan yang digemari. Dalam seporsi Soto Betawi H. Ma'ruf, kamu akan menemukan suwiran daging sapi, tomat, kikil, garam, kecap, daun bawang, jeruk nipis, bawang goreng, dan emping. Dagingnya sendiri, sebelumnya digoreng terlebih dahulu untuk bisa menghasilkan rasa tersendiri meski tanpa kuah sotonya. Kemudian disiram dengan kuah yang juga merupakan perpaduan antara santan dan susu. Memakai dua paduan kuah ini, membuat soto betawi ini lebih creamy saat disantap.